Diversifikasi Saham? Ini Dia Kegunaannya

Diversifikasi Saham? Ini Dia Kegunaannya

 

Diversifikasi Saham – Saham sering disebut sebagai kendaraan investasi berisiko tinggi dengan pengembalian tinggi. Alhasil, tak disangka ada beberapa teknik investasi saham. Diversifikasi saham adalah salah satunya. Apa definisi diversifikasi? “Jangan menaruh semua telur Kamu dalam satu keranjang,” seperti kata pepatah, dan hal yang sama berlaku untuk investasi.

Jangan pernah menaruh semua uang Kamu ke dalam satu kendaraan investasi. Risiko dapat dikurangi dengan “menyebarkan” uang Kamu ke berbagai aset, proses yang dikenal sebagai diversifikasi. Pertanyaannya sekarang adalah: apa pendekatan terbaik untuk mendiversifikasi investasi, terutama investasi jangka panjang? Simak saran-saran berikut ini.

Download Twibbon

Sumber Gambar: di sini

Nilai Tujuan Investasi.

Langkah pertama dalam diversifikasi saham adalah menilai tujuan investasi. Ketika Kamumelakukan investasi pertama, Kamuhampir pasti memiliki tujuan tertentu dalam pikiran. Ini biasanya mengacu pada durasi investasi, apakah itu jangka pendek, menengah, atau panjang.

Jika Kamu memulai dengan investasi jangka panjang tetapi mendapati diri Kamu membutuhkan uang tunai di tengah jalan, Kamu dapat menjual sebagian aset Kamu dan menggantinya dengan aset jangka pendek seperti reksa dana pasar uang atau deposito berjangka. Karena memberikan jaminan pengembalian, deposito berjangka sangat ideal untuk investasi jangka pendek.

Baca Juga : Keuntungan Investasi Obligasi yang Fantastis

Pahami Profil Risiko.

Kamu harus mengetahui profil risiko selain menganalisis tujuan berinvestasi di saham. Profil risiko adalah deskripsi toleransi risiko investor dalam hal berinvestasi. Profil risiko agresif, hati-hati, dan moderat adalah tiga kategori profil risiko investasi.

Pahami profil risiko. Kamu harus mengetahui profil risiko selain menganalisis tujuan berinvestasi di saham. Profil risiko adalah deskripsi toleransi risiko investor dalam hal berinvestasi. Profil risiko agresif, hati-hati, dan moderat adalah tiga kategori profil risiko investasi.

Kamu termasuk dalam kategori sedang jika posisi merasa sulit untuk memilih usaha yang berisiko tinggi. Instrumen dengan tingkat pengembalian tetap risiko menengah, seperti obligasi atau deposito reksa dana, harus menjadi mayoritas portofolio. Isi portofolio investasimu dengan produk berisiko tinggi seperti saham, sebaliknya, jika Kamu berani mengambil risiko. Misalnya, 60% dari uang diinvestasikan dalam ekuitas, dengan sisanya di aset berisiko rendah-menengah seperti obligasi atau deposito reksa dana.

Perlunya pemahaman yang mendalam tentang situasi keuangan untuk dapat menentukan profil risiko ini. Hitung sumber daya Kamu dengan hati-hati dan bagi menjadi beberapa item pengeluaran untuk mengurangi bahaya berinvestasi.

Tetapkan Tujuan Keuntungan.

Saat berinvestasi di saham, Kamu harus menetapkan tujuan keuntungan atau pengembalian untuk diri dirimu sendiri. Deposito adalah alternatif yang baik jika Kamu menginginkan pengembalian investasi yang terjamin. Investasi saham jangka panjang, di sisi lain, adalah cara yang harus dilakukan jika Kamu ingin menghasilkan banyak uang. Sementara itu, jika Kamu memiliki tujuan jangka menengah atau menengah, obligasi atau reksa dana bisa menjadi pilihan yang layak.

Kamu harus disiplin dalam menangani investasi seperti saham. Jangan tergiur dengan peluang investasi yang menjanjikan keuntungan tinggi. Ini juga merupakan ide yang baik untuk menghindari mengikuti tren. Hindari instrumen yang bergerak ke atas, terutama yang nilainya meningkat pesat. Pertahankan konsentrasi seperti laser pada tujuan investasi Kamu. Selalu ingat profil risiko Kamu dan buat perkiraan menyeluruh berdasarkan situasi keuangan Kamu.

baca juga: Rekomendasi Saham Blue Chip untuk Investasi Jangka Panjang

Awasi pergerakan instrumen keuanganmu.

Diversifikasi lebih dari sekadar “menyortir” asetmu ke dalam beberapa jenis kendaraan keuangan. Kamu harus selalu mengawasi bagaimana setiap instrumen bergerak. Hal ini disebabkan karena nilai setiap instrumen selalu berubah-ubah. Nilai instrumen investasi mungkin naik atau turun dalam beberapa jam.

Akibatnya, pastikan untuk mengawasi setiap aset yang telah ditetapkan untuk posting investasi. Jika memungkinkan, pantau setiap perubahan sehingga Kamu dapat memperkirakan masa depan. Jadi, apa yang harus Kamu lakukan jika Kamu melihat penurunan? Jawabannya adalah untuk menyeimbangkan sistem.

Rebalancing Harus Dilakukan Secara Teratur.

Apa yang dimaksud dengan rebalancing? Rebalancing adalah strategi untuk menyeimbangkan portofolio, menurut McKinsey, sebuah perusahaan konsultan manajemen global. Dalam hal investasi, nilai aset akan berfluktuasi, apakah naik atau turun. Rebalancing, di sisi lain, adalah teknik untuk mengatasi fluktuasi nilai ini sehingga Kamu tidak menderita kerugian investasi di kemudian hari.

Misalnya, portofolio Kamu sekarang terdiri dari 50 persen ekuitas dan 50 persen obligasi dan deposito. Namun, harga saham melonjak setelah itu. Kamu dapat menyeimbangkan kembali portofolio Kamu dengan membaginya 80 persen menjadi ekuitas dan 20 persen menjadi obligasi deposito.

Rebalancing tidak memiliki ukuran yang ditetapkan. Tentu saja, jika Kamu terus melacak nilai aset, Kamu akan dapat menentukan kapan saat terbaik untuk menyeimbangkan kembali portofolio investasi Kamu. Namun, rebalancing harus dilakukan setidaknya dua kali setahun. Investasi saham, sebagai alat keuangan dengan risiko tinggi dan pengembalian tinggi, membutuhkan pendekatan yang matang untuk menghindari kerugian. Semoga saran diversifikasi di atas dapat membantu Kamu dalam mengelola portofolio keuanganmu.

Pencarian Berdasarkan Kata Kunci

Chandra Asri Petrochemical Saham Cimb Niaga Saham Harga Saham Cimb Niaga Saham Chandra Asri PetrochemicalSimp Saham